Di dalam kegelapan
Kumencari cahya-Mu
Yang hilang sirna tak tersisa
Semakin kuterlena
Semakin kuterbawa
Arah hina dan ternoda
Kurindukan sinar suciMu yang mulia
dan kuharapkan belai kasihMu
Agar musnah semua keangkuhan diriku
dan kulepaskan dari sifatku
aa....aaaa..........aaa
Sejenak nasyid tersebut bersenandung di fikiranku.
Aku jadi teringat dengan sebuah syair yang pernah kubawakan dalam sebuah pentas kecil. Syair yang menyenandungkan tentang kegelisahanku dulu, dan kini kembali menghampiriku.
Mungkin benar, sebuah pepatah yang mengatakan jangan jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Karena jika itu terjadi, maka itu berarti kita tak pernah belajar dari kegagalan kita.
Mirip tapi tak sama, karena kegelisahanku saat ini lebih berat terasa. Karena kali ini aku merasa sendiri. Mungkin semua ini karena aku telah jauh melangkah, bahkan terlalu jauh meninggalkan isi hatiku dalam keadaan yang kering kerontang. Hati ini selalu galau, sedih dan tak tenang dalam aktifitasku.
"...Jatuh... jatuh dan jatuh
terjatuh aku dalam lubang kegelapan
meraba mencari pegangan..
kucoba cari sekelilingku tuk temukan seberkas cahaya
Namun...."
sekilas tentang gambaran hatiku dulu... sebuah syair yang kini harus kucermati kembali. Bahkan ku telaah kembali berharap mendapat ending yang menyenangkan seperti pada bait yang tertulis di syair tersebut.
"Selamat Tinggal Kegelapan, Selamat Datang Cahaya Abadi.."
Aku percaya bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Semoga kali ini pun dapat kuraih kembali cahaya yang kan menyinari hari-hariku.
Muhasabah Cinta
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar