Muhasabah Cinta

Kamis, 31 Juli 2008

Bukan Cinta Biasa

Ketika cinta sedang bersemayam di kalbu, dunia terasa sangat indah. Namun apa daya jika cinta harus kandas dunia terasa sepi, hampa dan menyedihkan. Mungkin banyak sekali alasan kita untuk memutuskan sebuah hubungan yang sudah terjalin begitu lama. Dan alasan selalu tepat apapun kondisinya.

Mungkin semua merasa bahwa aku tak memperjuangkan cintaku, saat akhirnya aku harus mengakhiri hubunganku dengan Handya. Seperti sinetron, cintaku kandas karena kedua orangtuaku tak bisa menerimanya dikarenakan alasan yang bagi masyarakat tertentu mungkin agak-agak berSARA. Tapi itu realita yang mau tidak mau harus dihadapi dan harus diterima.

Bukan tidak sakit, tapi sangat pedih ketika cinta harus berakhir di tangan kita sedangkan rasa itu begitu besar. Jika ada seseorang yang sakit hati karena di hianati, tapi aku sakit hati karena aku menghianati cinta yang tlah terjalin hampir lima tahun. Betul, lamanya hubungan seseorang tidak menjamin akan sampai ke jenjang pernikahan atau pun berakhir dengan happy ending.

Mungkin keputusan ini begitu gegabah, ketika aku mengakhiri cintaku namun tidak berselang dengan itu aku memiliki rasa yang begitu mendalam dengan seseorang. Walau aku tahu mungkin perasaan itu tak sedalam perasaanku pada Handya. Namun aku masih bersyukur bahwa aku dipertemukan dengannya, karena boleh jadi Allah ingin mengajariku untuk rela melepaskan cintaku untuk senyuman keluargaku. Ya, aku melepaskan cintaku untuk senyuman yang mungkin dapat kupersembahkan untuk keluargaku, orang tuaku tercinta.

Seseorang berkata padaku, kenapa tidak kalian perjuangkan cinta kalian? Jika memang kalian saling mencintai? Aku pun berfikir demikian, tapi kehidupan mengajariku bahwa banyak hal yang tidak bisa kita utarakan. Bukan karena ketidakberanian dan ketidakmampuan. Namun lebih karena seberapa besar cinta yang mampu kita berikan untuk mereka yang mencintai kita sepanjang hidup kita. Bukan sekedar cinta yang tumbuh selama lima, enam atau beberapa tahun saja. Mereka yang akan menerima kita apa adanya bukan ada apanya. Mereka yang siap menerima kita dalam keadaan suka dan duka.

Aku tahu berapa sering mungkin aku melukai keluargaku dengan kerasnya hatiku untuk mempertahankan cinta yang kumiliki. Entah betapa egoisnya aku memaksakan kehendakku kepada Sang Pencipta untuk meluluhkan keluargaku. Ya aku memang egois, meminta sesuatu yang mungkin bukan yang terbaik untukku. Karena jika ia yang terbaik, niscaya aku takkan di butakan sejauh itu. Aku bersyukur aku memiliki sejuta cinta yang diberikan saudara-saudaraku melalui tausyiah panjangnya padaku akan esensi hidup dan cinta yang sesungguhnya. Aku hanya percaya bahwa cukup melalui senyuman yang tersirat di wajah keluargaku, aku pun bahagia. Jika aku sanggup mempersembahkan dunia ini untuk sedikit saja senyuman di wajah mereka, niscaya kan kuberikan. Sayangnya aku hanya mampu memberikan keputusan ini untuk mereka.

Tahukah kau, aku menyadari satu hal bahwa selama ini aku egois. Aku egois karena memintanya untukku. Seolah aku memaksaNya untuk menyatukan kami. Padahal mungkin ia memang bukan yang terbaik untukku. Sedangkan dalam doa yang lirih terucap oleh mereka yang menyayangiku adalah harapan untuk membuka hatiku untuk sesuatu yang lebih baik dalam hidupku. Itulah yang sesungguhnya, bahwa keluargaku tidak pernah egois untuk kebahagiaanku. Namun akulah yang egois untuk kebahagiaanku sendiri. Sedangkan kehidupan bukan sekedar cinta semu, namun dibutuhkan keikhlasan dan pengorbanan dalam setiap nafas yang dihembuskan.

Aku sadar bahwa ternyata kebahagiaanku yang sesungguhnya adalah bersama mereka yang telah mencintaiku sepenuh hati mereka. Dan yang paling penting adalah kita tidak pernah tahu doa yang mana yang akan dikabulkanNya. Karena begitu banyak cinta yang hadir dalam hidup kita, begitu banyak doa pula yang telah diberikan untuk kebahagiaan kita. Bukan sekedar kebahagiaan diri sendiri, namun kebahagiaan semua orang. Itulah cinta yang sesungguhnya. Cinta yang akan bahagia jika kekasih dan keluarganya bahagia, cinta yang mampu menjadi penerang bagi kehidupan semua insan, cinta tanpa perselisihan, cinta yang damai, bukan cinta yang menghancurkan apalagi memabukkan, dan cinta itu bukan sekedar cinta biasa.

Tidak ada komentar: