Muhasabah Cinta

Minggu, 12 Oktober 2008

Cinta... Tell Me the Truth

Ketika kejujuran telah diutarakan, sungguh biasanya seseorang akan merasa terbebas dari kebohongan. tapi kejujuran kali ini sungguh masih membuat hati ini terasa sakit. pepatah mengatakan katakanlah kebenaran walau terasa pedih. Yah, inilah kejujuran hati yang harus kuutarakan, bahwa aku akan menempuh hidup baru dengan sosok yang bagiku masih terasa asing. Ia yang sejatinya sudah kukenal, namun aku masih merasakan asing. Apakah karena di hatiku masih menyimpan sejuta rasa, rasa yang begitu mendalam pada laki-laki lain? Bisa jadi, hingga berlian di pelupuk mata pun jadi tak terlihat.

Sahabat-sahabatku selalu bertanya, yakinkah aku dengan pilihanku? yakinkah aku untuk melepas kesendirianku dengan laki-laki ini? Betulkah semua ini didasari harapan untuk mereguk cinta Allah, atau hanya pelarian saja?

Berhari-hari sejak khitbah di kumandangkan, sungguh aku pun bertanya pada diriku sendiri dengan pertanyaan yang sama. karena aku pun tak mau melangkah dengan keraguan. Tapi yang aku yakini adalah bahwa ketika kita ragu untuk berbuat baik, maka lakukanlah kebaikan itu. niscaya itu akan tetap bernilai. tapi jika aku ragu untuk sebuah keburukan, maka tinggalkanlah niscaya itu adalah kebenaran yang ada di hati kita.

Detik jam terus berputar, menit pun tak mau kehilangan detiknya yang berharga. sedang aku? masih menyisakan banyak sekali pertanyaan yang terus bermain-main di fikiran dan hati ini? setiap rekan, sahabat, sanak family yang mengetahui masalahku selalu bertanya dengan masalah yang sama.

Aaah aku jadi semakin bingung. Betulkah keputusanku ini?tapi keputusan ini kuambil dengan hati-hati, tanpa paksaan dan tulus dari hati ini. Dan aku sadar bahwa keputusan ini harus dapat kupertanggungjawabkan kelak. Mungkin bukan saat ini, tapi nanti, akankah keputusan ini kusesali atau justru sangat aku terima.

Setiap langkah, setiap gerak menjelang hari besar itu kutapaki dengan berbagai cerita, seolah aku tak mau kehilangan satu hari pun tanpa sebuah cerita yang berkesan. Seandainya keputusan ini kusesali kelak, maka setidaknya aku masih memiliki kenangan atas hari-hariku yang bahagia.

Namun jika keputusan ini justru semakin mendekatkan aku dengan si Pemilik Cinta, maka itu adalah anugerah terbesar dalam hidupku. Bahwa aku memang mencari redho dari si Pemilik Hidup, sedangkan keredhoannya adalah keredhoan orang tuaku. Maka untuk apa aku sesali jika aku mendapatkan ridho dari keduanya.

Dan aku berharap, bahwa inilah jalan terbaik. Bukan hanya terbaik untukku, keluarga maupun laki-laki yang menjadi suamiku kelak. Melainkan kebahagiaan seluruh alam. kebahagiaan orang-orang yang menyayangi dan mencintaiku dengan segenap hati, serta kebahagiaan orang-orang yang bersemayam di hatiku.

Sayang, ijinkan aku mencintaimu dengan caraku. ijinkan aku melangkah pasti untuk kebahagiaanku serta kebahagiaanmu bersama dia yang kau sayangi. Dan biarlah aku mengalah untuk semua kebahagiaan kita. karena aku menyayangimu more than anyone can give that love to you.... dan yakinlah selalu dalam hatimu, cinta itu tulus bukan mainan, cinta itu mampu mendobrak seluruh dunia dengan kekuatannya, cinta itu butuh perjuangan, dan cinta yang sama tidak akan datang untuk keduakalinya. Jika ia datang cinta itu bisa lebih jauh berarti lagi atau bahkan lebih menakjubkan dari yang kau kira.

Dan jangan kau tangisi atas cinta yang tlah tumbuh dihati kita, jangan bersedih dengan kegagalan kita merajuk cinta, dan jangan meratapi kenyataan yang tak menyatukan cinta kita. karena semua tetap sama, boleh jadi dunia menghapus kita dalam hidup mereka, tapi cinta takkan terhapus dari memori dan hati kita. walaupun ingatan kita meninggalkan kita dalam kehampaan. ia akan tetap ada dan menunggu untuk di panggil kembali dalam memori hidup kita. Just believe that key...
Semangat, dan biarlah cinta yang memberikan kebenaran dan kejujuran untuk kita. let the time show us the truth of love...

Tidak ada komentar: