Berada di persimpangan jalan
salah satunya akan membawa ke jurang kehidupan
keputusan takkan bisa kembalikan masa lalu
untuk sebuah kesucian hidup
hanya bisa menerima kenyataan
bahwa jalan harus dipilih
unik, memang semua manusia akan mengalaminya..
namun hanya sebagian saja yang bisa memilih sesuai jalan-Nya
berapa banyak yang telah tergelincir jatuh ke jurang yang dalam
hanya hati yang bersih yang mampu melalui nya dan mendapatkan kebahagiaan
di sana... di keabadian hidup......
Muhasabah Cinta
Jumat, 20 Juni 2008
Minggu, 08 Juni 2008
Aku dan Lelaki Itu
Sore itu, aku bersama kedua rekanku akan pulang dari JHCC Senayan setelah menghadiri acara CSR yang diselenggarakan oleh KLH. Dalam perjalanan pulang kami berencana untuk sholat di Masjid Al Azhar karena lebih leluasa dibandingkan tempat sholat yang disediakan oleh panitia.
Ketika kami keluar dan menuju ke Masjid Al Azhar tiba-tiba tepat disebelah kananku kurasakan sesuatu menarik dan membuatku kaget. Aku tersentak ketika kusadari sesosok laki-laki terjatuh dari motornya. Ia tertiban motornya, dan ternyata semua karena AKU. Aku kaget dan benar-benar tak percaya. Bagaimana mungkin ia bisa terjatuh padahal aku tak menyentuhnya. Ternyata motor yang dikendarainya menarik tali tasku yang kebetulan saat itu akan kupindahkan kepangkuanku.
Seketika itu juga aku lemas, gemetar , tegang dan harap-harap cemas; apakah laki-laki itu baik-baik saja atau ia terluka. Aku turun dari motorku dan kudatangi laki-laki tersebut. Laki-laki itu di tolong oleh pak polisi yang kebetulan lagi istirahat di tempat pertigaan Put-put Golf tersebut dan membawanya ke pinggir. Seketika aku dan laki-laki tersebut berpandangan, sungguh saat aku menatap matanya ia menjadi sosok yang sangat menakutkan. Matanya tajam seolah menusukku, aku takut melihatnya. aku seolah berada di dasar ketakutan yang begitu sangat. oooh seandainya di sana ada kakakku mungkin aku akan mundur dan berada di balik kakakku atau menangis, ah tapi itu hanya anganku saja. Aku semakin ketakutan, seandainya aku bisa melihat wajahku saat itu mungkin pucat seperti makanan yang direbus.. Aku dekati laki-laki itu untuk minta maaf, tapi laki-laki itu tak menjawab permintaan maafku ia hanya menatapku dengan pandangan yang menakutkan. Dendam, marah atau apapun itu yang pasti hal itu semakin membuatku merasa bersalah.
Karena aku, lelaki itu terjatuh dan mungkin sangat kesakitan, hingga ia menatap benci padaku. Ia pun pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku hanya bisa terdiam melihatnya meninggalkan TKP. Namun aku masih merasa bersalah padanya, dan aku berharap permintaan maafku diterima olehnya. Tiba-tiba pak polisi berkata padaku, “udah ga apa-apa mbak” membuyarkan perasaan bersalah yang semakin menjadi. Dalam perjalanan otakku terus berfikir, bagaimana bisa hal itu terjadi? Kenapa motor yang berlawanan arah itu bisa terlalu dekat denganku. Padahal motorku berhenti sedangkan di bagian depan dan belakang motorku ada mobil yang berhenti karena macet. Bagaimana bisa? Aaaah aku tak tahu pasti.
Seandainya aku laki-laki mungkin laki-laki itu akan melampiaskan kemarahannya padaku. Bisa memukul, memaki atau apa sajalah yang biasa diungkapkan oleh orang yang sedang marah. Namun karena aku seorang wanita, hal itu tak dapat ia lakukan. Ia hanya menatapku dan menahan kemarahannya.
Ya Allah, semakin aku berfikir bagaimana kejadian itu dapat terjadi? Maka semakin takut dan gemetar aku. Sehingga dalam perjalanan pulang aku hanya terdiam,lemas dan gemetar yang masih merasuk dalam diri. Ku genggam jari jemari, memeluk tasku yang putus, majalah dan brosur yang berada di pangkuanku untuk menetralisir perasaan ini yang akhirnya air matapun menetes dalam diamku. Karena sungguh kepalaku saat itu dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Walau teman-temanku menenangkan aku dengan kata-katanya “Bukan salah sampean koq,….”, “ itu biasa terjadi kalo di jalan…”. Akan tetapi hati, fikiran ini tetap pergi mencari lelaki itu dan berharap ia dalam keadaan baik-baik saja. Aku hanya dapat berdoa, semoga Allah mengangkat rasa sakit dan meluluhkan hatinya untuk memaafkanku..
Illahi, sungguh Engkau yang Maha Tahu, Engkau yang tahu seperti apa kejadian sesungguhnya. Illahi sungguh aku bersyukur bahwa Engkau melepaskan tasku dari tubuhku, karena jika bukan karenaMu mungkin aku akan tergeletak menabrak mobil dibelakangku.
Illahi, aku bersyukur karena aku seorang wanita, sehingga laki-laki itu tidak menumpahkan kemarahannya padaku. Karena bila itu terjadi mungkin aku tak bisa menerimanya. Ya Rabb Maafkan aku, untuk khilafku yang melukai orang lain.. Maaf ya Allah yang Maha Pengampun…Sungguh ya Allah, tak ada yang bisa menebak seperti apa kejadiannya. Karena semua itu sudah tertulis dalam kitab-Mu. Bahwa hari, jam, menit, tempat semuanya telah Kau tuliskan dalam perjalanan hidupku. Sehingga aku bisa mengambil hikmah dari setiap langkah serta hembusan nafas yang kuhirup dan kukeluarkan.
Thank You Allah for everthing....
Kutulis kisah ini untuk menyampaikan perasaan bersalahku yang begitu sangat.
Aku minta Maaf untuk dia yang tidak sengaja terjatuh karena aku.
Mungkin bagi orang lain ini hal yang sepele, tapi bagiku ini sesuatu yang pasti kukenang seumur hidupku.
Thank you Allah..
Home, 6 Jun 2008
Ketika kami keluar dan menuju ke Masjid Al Azhar tiba-tiba tepat disebelah kananku kurasakan sesuatu menarik dan membuatku kaget. Aku tersentak ketika kusadari sesosok laki-laki terjatuh dari motornya. Ia tertiban motornya, dan ternyata semua karena AKU. Aku kaget dan benar-benar tak percaya. Bagaimana mungkin ia bisa terjatuh padahal aku tak menyentuhnya. Ternyata motor yang dikendarainya menarik tali tasku yang kebetulan saat itu akan kupindahkan kepangkuanku.
Seketika itu juga aku lemas, gemetar , tegang dan harap-harap cemas; apakah laki-laki itu baik-baik saja atau ia terluka. Aku turun dari motorku dan kudatangi laki-laki tersebut. Laki-laki itu di tolong oleh pak polisi yang kebetulan lagi istirahat di tempat pertigaan Put-put Golf tersebut dan membawanya ke pinggir. Seketika aku dan laki-laki tersebut berpandangan, sungguh saat aku menatap matanya ia menjadi sosok yang sangat menakutkan. Matanya tajam seolah menusukku, aku takut melihatnya. aku seolah berada di dasar ketakutan yang begitu sangat. oooh seandainya di sana ada kakakku mungkin aku akan mundur dan berada di balik kakakku atau menangis, ah tapi itu hanya anganku saja. Aku semakin ketakutan, seandainya aku bisa melihat wajahku saat itu mungkin pucat seperti makanan yang direbus.. Aku dekati laki-laki itu untuk minta maaf, tapi laki-laki itu tak menjawab permintaan maafku ia hanya menatapku dengan pandangan yang menakutkan. Dendam, marah atau apapun itu yang pasti hal itu semakin membuatku merasa bersalah.
Karena aku, lelaki itu terjatuh dan mungkin sangat kesakitan, hingga ia menatap benci padaku. Ia pun pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku hanya bisa terdiam melihatnya meninggalkan TKP. Namun aku masih merasa bersalah padanya, dan aku berharap permintaan maafku diterima olehnya. Tiba-tiba pak polisi berkata padaku, “udah ga apa-apa mbak” membuyarkan perasaan bersalah yang semakin menjadi. Dalam perjalanan otakku terus berfikir, bagaimana bisa hal itu terjadi? Kenapa motor yang berlawanan arah itu bisa terlalu dekat denganku. Padahal motorku berhenti sedangkan di bagian depan dan belakang motorku ada mobil yang berhenti karena macet. Bagaimana bisa? Aaaah aku tak tahu pasti.
Seandainya aku laki-laki mungkin laki-laki itu akan melampiaskan kemarahannya padaku. Bisa memukul, memaki atau apa sajalah yang biasa diungkapkan oleh orang yang sedang marah. Namun karena aku seorang wanita, hal itu tak dapat ia lakukan. Ia hanya menatapku dan menahan kemarahannya.
Ya Allah, semakin aku berfikir bagaimana kejadian itu dapat terjadi? Maka semakin takut dan gemetar aku. Sehingga dalam perjalanan pulang aku hanya terdiam,lemas dan gemetar yang masih merasuk dalam diri. Ku genggam jari jemari, memeluk tasku yang putus, majalah dan brosur yang berada di pangkuanku untuk menetralisir perasaan ini yang akhirnya air matapun menetes dalam diamku. Karena sungguh kepalaku saat itu dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Walau teman-temanku menenangkan aku dengan kata-katanya “Bukan salah sampean koq,….”, “ itu biasa terjadi kalo di jalan…”. Akan tetapi hati, fikiran ini tetap pergi mencari lelaki itu dan berharap ia dalam keadaan baik-baik saja. Aku hanya dapat berdoa, semoga Allah mengangkat rasa sakit dan meluluhkan hatinya untuk memaafkanku..
Illahi, sungguh Engkau yang Maha Tahu, Engkau yang tahu seperti apa kejadian sesungguhnya. Illahi sungguh aku bersyukur bahwa Engkau melepaskan tasku dari tubuhku, karena jika bukan karenaMu mungkin aku akan tergeletak menabrak mobil dibelakangku.
Illahi, aku bersyukur karena aku seorang wanita, sehingga laki-laki itu tidak menumpahkan kemarahannya padaku. Karena bila itu terjadi mungkin aku tak bisa menerimanya. Ya Rabb Maafkan aku, untuk khilafku yang melukai orang lain.. Maaf ya Allah yang Maha Pengampun…Sungguh ya Allah, tak ada yang bisa menebak seperti apa kejadiannya. Karena semua itu sudah tertulis dalam kitab-Mu. Bahwa hari, jam, menit, tempat semuanya telah Kau tuliskan dalam perjalanan hidupku. Sehingga aku bisa mengambil hikmah dari setiap langkah serta hembusan nafas yang kuhirup dan kukeluarkan.
Thank You Allah for everthing....
Kutulis kisah ini untuk menyampaikan perasaan bersalahku yang begitu sangat.
Aku minta Maaf untuk dia yang tidak sengaja terjatuh karena aku.
Mungkin bagi orang lain ini hal yang sepele, tapi bagiku ini sesuatu yang pasti kukenang seumur hidupku.
Thank you Allah..
Home, 6 Jun 2008
Label:
AKU,
Aku dan Lelaki,
CSR,
Duniapuisi,
Lelaki,
Thank You Allah
Langganan:
Komentar (Atom)